Artikel

Artikel (2)

Wednesday, 02 October 2019 05:06

Eksotik Danau Ubur-Ubur Kepulauan Togean

Written by

Kepulauan Togean merupakan salah satu tempat destinasi yang berada di kabupaten Tojo Una-Una. Salah satu tempat wisata yang terkenal adalah danau Ubur-ubur atau Jelly Fish Lake yang berada di Desa Lembanato Kecamatan Togean. Danau Ubur-ubur ini menurut cerita dari kepala desa Lembanato Bapak Mohamat Amin Djudirahi, bahwa sebelum terjadinya danau Ubur ubur, lokasi tersebut merupakan kebun sagu, waktu itu terjadi musim kemarau panjang yang menyebabkan musim panas dan kekeringan, sehingga terjadi kebakaran hutan dan perkebunan sagu tersebut hangus terbakar. Menurut pendapat masyarakat karena struktur tanahnya yang labil, maka terjadi pergerakan dan pergeseran tanah, sehingga lokasi perkebunan sagu jatuh keperut bumi yang di barengi dengan masuknya air laut ke lokasi danau ubur-ubur sekarang ini. Kejadian ini di perkirakan terjadi pada tahun 1300 san tahun lalu. Seiring bertambahnya waktu abrasi pantai terjadi yang mengakibatkan kikisan air laut sehingga di sekitaran dinding batu yang ada di pinggiran pantai terdapat beberapa lubang maupun yang berbentuk seperti jendela batu, yang mana ketika air laut pasang akan membawa beberapa hewan laut yang salah satunya adalah ubur ubur masuk ke danau, Ubur-ubur ini memiliki ciri khas yaitu tidak punya kemampuan menyengat, tidak seperti Ubur-ubur pada umumnya. Ubur ubur ini tidak memiliki senjata untuk menyengat di karenakan kehidupannya secara beranak pinak tidak pernah keluar dari satu lokasi ( danau ) sehingga tidak pernah bertemu dengan hewan ataupun predator-predator lain. Sehingga dengan sendirinya senjata penyengat yang ada di badanya tidak pernah berfungsi untuk menyengat, yang mengakibatkan secara alami senjata atau bisa di badannya akan layu atau mati. Danau Ubur-ubur atau Jelly Fisk Lake ini memiliki luas kurang lebih 30.000 meter persegi (3 Hektar) dengan ukuran kedalam tengah danau mencapai 21 meter.

Foto Galeri

Tuesday, 20 August 2019 15:14

Pesona Lupi

Written by

Kabupaten Tojo Una-Una terdiri dari berbagai suku yang menempati wilayah Kabupaten Tojo Una – Una. Suku-suku tersebut memiliki keragaman dan sangat otentik serta memiliki kearifan lokal di dalam identitas kehidupan mereka. Dalam hal ini kita akan mengenal salah satu suku yang mendiami dataran wilayah Kabupaten Tojo Una – Una yaitu suku Bare’a-Taa. Pemerintah Kecamatan mulai mengangkat kearifan lokal yang telah lama dilupakan oleh masyarakat Kabupaten Tojo Una-Una  khususnya mayarakat adat Bare’e-Taa yang mendiami sebagian besar dataran Kabupaten Tojo Una-Una. Kegiatan tersebut akan dijadikan agenda rutin Tahunan Kecamatan Ampana Kota setiap seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan itu deberi nama “ Malam Posintuvu Raya Pesona Lupi “ dimana Kata Posintuvu Raya itu sendiri adalah keinginan yang bangkit pada jiwa raga bangsa dan masyarakat dalam mempersatukan kebersamaan pada suku bangsa yang berbeda-beda, khususnya suku Bare’e–Taa yang banyak menyimpan sejarah, salah satu sejarah adalah tercipta makanan Lupi yang terbuat dari daun yeki.

            Lupi dalam bahasa Indonesia artinya lipat, dimana lupi adalah sajian makanan khas nenek moyang masyarakat bare’e-taa yang dapat bertahan berhari-hari. Mereka hidup berkelompok dan berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Lupi bukan saja dipergunakan untuk perjalanan jauh tetapi sejak dahulu kala setiap pelaksanaan syukuran keberhasilan panen menuai padi ladang dan sekaligus membuat adat dengan menyembelih beberapa ekor ayam kemudian meletakan beberapa ikat padi yang akan di tanam kembali, lalu di cederai dengan darah ayam yang telah di sembelih oleh pemangku adat yang di sebut “MURAA” dalam bahasa Taa mencederai  RA artinya darah

            Lupi adalah sebuah artikel yang sangat bersejarah, pada zaman dahulu nenek moyang suku bare’e-taa sebelum mengenal belanga untuk menanak nasi mereka hanya mengenal bambu yang memiliki ruas panjang dan diameter besar dan digunakan memasak beras dan air tidak pecah serta cepat masak. Disaat itu pemikiran mereka mulai berkembang untuk mempersiapkan bekal makanan yang sudah masak untuk melakukan perjalanan jauh seperti :

  1. Ada yang memasak beras dengan bambu dilapisi dengan daun pisang muda di dalamnya, dalam bahasa Bare’e namanya Cani dan dalam bahasa Taa namanya Sinobol
  2. Ada yang memasak beras dalam bambu melalui anyaman daun kelapa atau daun seho muda namanya Ketupat
  3. Ada yang memasak beras di dalam bambu melalui lipatan daun sagu namanya Siyupi
  4. Ada yang memasak beras di bungkus dan di lipat dengan daun Yeki yang berbentuk daun pisang kemudian diisi di dalam bambu di tambah sedikit air namanya dalam bahasa bare’e lupi, dan dalam bahasa Taa baku pole artinya bekal persiapan.

Dari keempat bekal/persiapan tersebut diatas, yang dapat bertahan lama serta memiliki stamina panjang dalam perjalanan yaitu hanya lupi atau baku pole. Mengapa hanya lupi yang bertahan lama ? Hal ini karena lupi hanya terbuat dari beras dengan campuran air murni tidak menggunakan santan dan garam. Inilah keistimewaan lupi apabila dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja yang memasak lupi, jika ditambah setetes santan dan garam maka bukan lupi namanya.

Galeri Kegiatan